| Orasi Ilmiah Dubes RI untuk Malaysia,H.E. Da'i Bachtiar pada acara Dies Natalies Universitas Langlang Buana, 21 November 2009 di Bandung |
|
|
|
| Sabtu, 21 November 2009 00:00 |
|
"HUBUNGAN INDONESIA - MALAYSIA: PIDATO ORASI ILMIAH DISAMPAIKAN
Yang saya hormati Rektor Universitas Langlangbuana Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera untuk Kita Semua. Pertama-tama saya ingin memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kita masih diberi kesempatan, kekuatan, serta kesehatan untuk bersama-sama hadir dalam acara Dies Natalis/Wisuda Universitas Langlang Buana, Bandung. Saya juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk menyampaikan orasi pada acara ini. Hadirin yang saya hormati, Berbicara mengenai “Hubungan Indonesia – Malaysia Yang Saling Menghormati dan Menguntungkan”, saya ingin menekankan bahwa pada hakikatnya tidak ada masalah berarti dalam hubungan kedua negara sekarang ini, apalagi di kalangan pemimpinnya. Sebagai buktinya, pada saat pelantikan Presiden RI beberapa waktu lalu, PM Malaysia merupakan salah satu pemimpin negara asing yang hadir ke Jakarta untuk menyaksikannya dan secara khusus bertemu dengan Presiden RI. Sebaliknya, pada 10-12 November lalu, kita juga tahu bahwa Presiden RI telah berkunjung ke Malaysia. Ini merupakan kunjungan pertama beliau sebagai Presiden RI terpilih. Dan Malaysia merupakan negara pertama yang dikunjungi. Selain karena jaraknya terdekat, memang kita memiliki hubungan yang juga sangat dekat. Kunjungan dua hari itu sangat berarti dan memberikan isyarat positif dalam hubungan kedua negara, termasuk hubungan antar masyarakatnya. Hubungan yang semacam ini tidak hanya berlangsung sekarang tapi juga pada pemimpin kita sebelumnya. Dan, diharapkan hubungan baik tersebut dapat berlanjut dalam jangka panjang ke depan. Keadaan inilah yang membuat sebenarnya kedua masyarakat bangsa harus menjalin hubungan yang lebih erat dengan intensitas komunikasi yang lebih tinggi. Untuk meningkatkan kualitas hubungan kedua pihak, maka pemahaman terhadap masing-masing bangsa dan negara menjadi keniscayaan. Hadirin yang saya hormati, Malaysia awalnya merupakan Uni Malaya yang lahir pada 31 Agustus 1957 yang sebelumnya adalah kerajaan-kerajaan kecil yang terpisah satu dengan yang lain. Dalam perkembangannya, setelah Sabah dan Serawak bergabung dengan Uni Malaya di Semenanjung maka lahirlah Negara Persekutuan Malaysia pada 16 September 1963. Malaysia terdiri dari berbagai kelompok suku bangsa, dengan Suku Melayu sejumlah 54% menjadi ras terbesar dan bumiputra/suku asli di Sabah dan Sarawak sejumlah 11% keseluruhan penduduk. Menurut konstitusi Malaysia, yang dimaksudkan orang Melayu adalah Muslim, menggunakan Bahasa Melayu, yang menjalankan adat dan budaya Melayu. Oleh karena itu, secara teknis, seorang Muslim dari ras manapun yang menjalankan kebiasaan dan budaya Melayu dapat dipandang sebagai Melayu dan memiliki hak yang sama ketika berhadapan dengan hak-hak istimewa Melayu seperti yang dinyatakan di dalam konstitusi. Sebagian dari penduduk Melayu tersebut merupakan keturunan Indonesia yang telah datang sejak beberapa abad lalu. Mereka adalah pendatang yang berasal dari Minang, Jawa, Bugis/Makassar, Medan, Bawean dan lain-lain yang memenuhi dan membangun Wilayah Johor, Negeri Sembilan, Pahang, dan pantai timur lainnya di Semenanjung serta Sabah. Terdapat pula sebagian dari keseluruhan penduduk, bumiputra non-melayu menjadi kelompok dominan di negara bagian Sarawak (30%-nya adalah Iban), dan mendekati 60% penduduk Sabah (18%-nya adalah Kadazan- Dusun, dan 17%nya adalah Bajaus). Bumiputra non-Melayu itu terbagi atas puluhan kumpulan ras tetapi memiliki budaya umum yang sama. Hingga abad ke-20, kebanyakan dari mereka mengamalkan kepercayaan tradisional tetapi kini telah banyak yang sudah memeluk Kristen atau Islam. Masuknya ras lain sedikit banyak mengurangi persentase penduduk pribumi di kedua negara bagian itu. Juga terdapat kelompok aborigin dengan jumlah sedikit di Semenanjung, mereka biasa disebut Orang Asli. Selain itu, terdapat pula suku bangsa lain yaitu Tionghoa-Malaysia yang berjumlah 25%, sedangkan India-Malaysia sebanyak 7,5% dari keseluruhan penduduk. Sebagian besar komunitas India adalah Tamil (85%), tetapi berbagai kelompok lainnya juga ada, termasuk Malayalam, Punjab, dan Gujarat. Sebagian lagi penduduk Malaysia berdarah campuran Timur Tengah, dan Thailand. Keturunan Eropa dan Eurasia termasuk Britania yang menetap di Malaysia sejak zaman kolonial, dan komunitas Kristang yang kuat di Melaka. Sejumlah kecil orang Khmer dan Vietnam menetap di Malaysia sebagai pengungsi Perang Vietnam. Sebaran penduduk sangat tidak merata. Lebih dari 17 juta penduduk menetap di Malaysia Barat, sedangkan tidak lebih dari 7 juta menetap di Malaysia Timur. Dari Jumlah tersebut, keberadaan keturunan Indonesia di Malaysia yang sudah meupakan sejarah panjang Malaysia memberi dinamisasi keadaan dan kemajuan Malaysia. Jejak tapak keturunan Indonesia masih wujud sekarang ini di Kesultanan Johor dan Kesultanan Negeri Sembilan. Disamping itu, kita dapat melihat kesuksesan keturunan Indonesia dalam berbagai bidang kehidupan dan kemajuan Malaysia. Salah satunya adalah Keluarga Tun Razak yang sudah dua kali memimpin Malaysia. Tumbuhnya industri padat tenaga kerja, menyebabkan Malaysia menjadi salah satu destinasi untuk mencari pekerjaan bagi Warga Negara Indonesia. Terdapat sekitar 2 juta pekerja Indonesia di Malaysia yang memenuhi lapangan kerja baik formal maupun informal. Diantara jumlah tersebut, terdapat 1,2 juta yang memenuhi lapangan kerja formal dan informal dengan memiliki dokumen lengkap, sedangkan diperkirakan 800 ribu orang lainnya memenuhi lapangan kerja informal dengan dokumen tidak lengkap. Hadirin yang saya hormati, Sejak kemerdekaannya, Malaysia telah berkomitmen untuk memajukan sumber daya manuasianya dengan berdasar pada pembangunan pendidikan. British System yang dipakai dalam sistem pendidikannya menyebabkan pendidikan Malaysia menjadi well established yang merupakan bagian dari pada sumber pelaksanaan pembangunannya. Terlebih lagi pada saat Pemerintahaan PM Tun Mahathir Mohammad yang dimulai pada tahun 1982, alokasi dana untuk pembangunan pendidikan telah mencapai hampir 20% dari keseluruhan anggaran APBN Malaysia. Alokasi dana tersebut diperuntukkan bagi perbaikan pendidikan dasar dan menengah, peningkatan kualitas guru, serta pengiriman generasi muda Malaysia untuk belajar di luar negeri. Inggris dan Indonesia merupakan destinasi tempat belajar bagi generasi muda Malaysia pada saat itu. Selain itu, Amerika Serikat dan Australia juga menjadi tempat belajar yang utama. Hingga sekarang, kita dapat melihat pemihakan pemerintah Malaysia dalam membangun pendidikannya dengan mengalokasikan sumber dana bagi kegiatankegiatan akademik dan ko-kurikuler lainnya, mulai dari tingkatan sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Dan juga, mulai dari pembangunan sarana dan parasarana sampai kepada kegiatan tenaga pendidik non guru, guru, dan dosen. Saat ini, pembangunan pendidikan telah menghasilkan korelasi positif pada kemajuan pembangunan lainnya pada infrastruktur kota, seperti jalan raya, pelabuhan, ketersediaan listrik, ketersediaan air bersih, drainase, lingkungan yang tertata dengan baik, bersih dan nyaman. Selain itu, kemajuan teknologi informasi telah memberikan daya dukung bagi kemajuan ekonomi yang bertumpu pada kegiatan investasi, perdagangan, jasa, dan pariwisata. Mata rantai ini memberikan dampak terhadap pendapatan per kapita pada tahun 2009 meningkat sebesar 2,5 % menjadi RM. 24. 661 atau US$ 7.046 dan daya beli masyarakat (purchasing power parity) naik menjadi US$ 13.177. Sementara pertumbuhan ekonomi Malaysia, sesuai perkiraan International Monetary Fund (IMF), mengalami kontraksi -3,0 % pada tahun 2009. Malaysia memiliki jalan-jalan besar yang menghubungkan semua kota besar di pesisir barat Semenanjung Malaysia. Pada 2006, panjang keseluruhan Sistem Jalur Cepat Malaysia adalah 1.471,6 kilometer. Jejaring itu menghubungkan semua kota besar dan sekitarnya: Klang Valley, Johor Bahru, dan Penang satu sama lain. Jalur motor utama (E1 dan E2, E1 adalah bagian Utara Kuala Lumpur, sedangkan E2 adalah bagian selatan), terentang dari ujung utara dan selatan Semenanjung Malaysia, masing-masing di Bukit Kayu Hitam dan Johor Bahru. Jalur itu bagian dari Jaringan Jalur Cepat Asia, yang juga menghubungkan Thailand dan Singapura. Jalan di Malaysia Timur dan pesisir timur Semenanjung Malaysia relatif kurang terbangun. Semua itu berupa jalan yang sangat berkelok-kelok melewati pegunungan dan belum dilapisi aspal, jalan berkerikil. Akibatnya, sungai masih menjadi jalur transportasi penting, di samping pesawat udara sebagai modus utama atau alternatif transportasi bagi penduduk pedalaman. Jasa kereta api di Malaysia Barat dioperasikan oleh Keretapi Tanah Melayu dan memiliki rel cukup banyak yang menghubungkan semua kota besar dan kota kecil di semenanjung, yang juga melebar hingga Singapura. Juga ada rel pendek di Sabah yang dioperasikan oleh Sabah State Railway yang utamanya mengangkut komoditas. Juga ada pelabuhan di negara ini. Pelabuhan besar adalah Port Klang dan Tanjung Pelepas di Johor. Pelabuhan penting lainnya dapat ditemukan di Tanjung Kidurong, Kota Kinabalu, Kuching, Kuantan, Pasir Gudang, Penang, Miri, Sandakan, and Tawau. Bandar Udara ditemukan di pelosok negara. Bandar Udara Internasional Kuala Lumpur (KLIA) adalah bandar udara terbesar di negara ini. Bandar udara penting lainnya termasuk Bandar Udara Internasional Kota Kinabalu, Bandar Udara Internasional Penang, Bandar Udara Internasional Kuching, Bandar Udara Internasional Langkawi, dan Bandar Udara Internasional Senai. Juga ada bandar udara di kota-kota kecil, juga pelabuhan udara perintis domestik di kawasan perkotaan Sabah dan Sarawak. Terdapat jasa penerbangan harian Timur dan Barat Malaysia, satu-satunya pilihan yang tepat bagi konsumen perjalanan dari dua belahan negara ini. Malaysia adalah rumah bagi maskapai udara murah di kawasan ini, AirAsia. AirAsia berbasis di Kuala Lumpur dan memelihara penerbangan ke Asia Tenggara dan Cina. Di Kuala Lumpur, AirAsia mengoperasikan Low Cost Carrier Terminal (LCCT) di KLIA. Jasa telekomunikasi antarkota disediakan di Malaysia Barat terutama oleh riley radio gelombang pendek. Telekomunikasi internasional disediakan melalui kabel bawah laut dan satelit. Salah satu perusahaan telekomunikasi terpenting dan terbesar di Malaysia adalah Telekom Malaysia (TM), yang menyediakan produk-produk dan pelayanan dari sambungan tetap, sambungan bergerak, juga jasa akses Internet Hadirin yang saya hormati, Melihat perkembangan kemajuan yang dimiliki Malaysia saat ini, kita lalu bertanya, apakah kita hanya akan berdiam diri menyaksikan kemajuan mereka? Apakah kita hanya menyesali diri dan menyalahkan diri sendiri sembari memunculkan rasa emosi menghadapi mereka? Atau sebaliknya apakah manfaat saling menguntungkan yang dapat diraih dalam hubungannya dengan Indonesia? Dua pertanyaan di awal sebenarnya tidak perlu muncul jika kita optimis menghadapi keadaan dan potensi kita. Malah, ia bisa menjadi kontra-produktif bagi hubungan kedua negara. Tinggal saja, bagaimana kita mengoptimalkan upaya-upaya yang ada sehingga kita dapat mengambil manfaat dari hubungan kedua negara. Isu yang muncul beberapa waktu terakhir ini yang menghiasi hubungan kedua negara, merupakan bagian dari hubungan yang senantiasa perlu diperbaiki. Ia merupakan, persepsi yang keliru diantara kedua masyarakat bangsa sehingga memunculkan kesalahfahaman, bahkan, amarah di kedua belah pihak. Jika hal ini terpelihara secara berterusan dikedua belah pihak maka kerugian akan dialami keduanya. Olehnya itu, pemerintah kedua negara lebih mengintensifkan aspek hubungan people to people yang dapat dicermati dari kedekatan historis dan kekerabatan antar masyarakat kedua negara. Kedua pemimpin negara bersepakat menterjemahkan kesadaran akan pentingnya peningkatan hubungan tersebut dengan membentuk Eminent Persons Group (EPG), sebuah kelompok yang beranggotakan putra-putri terbaik kedua negara untuk merumuskan rekomendasirekomendasi praktis bagi peningkatan hubungan yang lebih erat antara Indonesia dan Malaysia kepada Kepala Pemerintahan kedua negara. Tahun 2008 tercatat sebanyak 800.000 wisatawan Malaysia mengunjungi Indonesia, sedangkan sebanyak 2,4 juta masyarakat Indonesia mengunjungi Malaysia. Selain dilihat sebagai industri yang berimplikasi pada sektor ekonomi, kunjungan wisatawan antar kedua negara juga erat kaitannya dengan people to people contact yang memperkenalkan keunikan seni budaya masyarakat melalui obyek-obyek wisata yang ditawarkan. Kesepahaman akan eksistensi dan latar belakang seni & budaya daerah tertentu akan menumbuhkan rasa saling pengertian dan saling menghormati antar masyarakat kedua negara. Disadari juga bahwa di era informasi saat ini, pengembangan hubungan dengan kalangan media menjadi salah satu bidang yang perlu digarap secara serius. Kalangan media banyak berperan dalam pembentukan opini publik, pencitraan dan persepsi, yang tidak jarang dapat mempengaruhi cara pandang masyarakat, baik masyarakat Indonesia terhadap Malaysia maupun sebaliknya. Penyelenggaraan Indonesia-Malaysia Inter Media Dialog yang didasari dengan semangat saling menghormati diharapkan dapat menjadi impetus (dorongan) di kalangan jurnalis untuk semakin mendekatkan hubungan antar kedua negara melalui penyajian berita yang faktual dengan tetap mengedepankan profesionalisme dan kode etik jurnalistik. Kegiatan pertukaran kunjungan dan kerjasama pemuda, mahasiswa dan olah raga serta kesenian telah dan saat ini terus berlangsung antar kedua negara kiranya perlu semakin ditingkatkan dan digiatkan. Saat ini sekitar 5.600 mahasiswa Malaysia menuntut ilmu di Indonesia dan sebanyak lebih kurang 15.000 mahasiswa Indoensia meneruskan studinya di berbagai Perguruan Tinggi Malaysia. Hadirin yang saya hormati, Malaysia merupakan salah satu Negara tujuan utama para tenaga kerja Indonesia untuk mencari pekerjaan sejak perempat terakhir tahun 1970, baik di sektor formal (kilang, perkebunan kelapa sawit, konstruksi, jasa) dan sektor informal (penata laksana rumah tangga/PLRT). Terdapat satu asumsi bahwa secara umum lapangan pekerjaan yang diberikan kepada tenaga kerja asal Indonesia adalah lapangan pekerjaan yang tidak diminati oleh warga tempatan, yaitu pekerjaan dengan katagori 3 D yaitu Dirty (kotor), Dangerous (berbahaya) dan Difficult (sulit), bahkan terdapat 1 (satu) tambahan D yaitu Demeaning (merendahkan). Di Malaysia, tenaga kerja Indonesia mendominasi sekitar 62,8 % dari keseluruhan jumlah tenaga kerja asing (Nepal, India, Myanmar, Filipina dan Vietnam) di Malaysia karena tidak dapat dipungkiri dan diakui bahwa tenaga kerja asal Indonesia pada umumnya adalah pekerja yang cukup rajin dan baik, sehingga menguasai pasar kerja asing dan secara tidak langsung tenaga kerja Indonesia juga turut ‘menyumbang’ pertumbuhan perekonomian Malaysia. Disamping banyak tenaga kerja asal Indonesia yang kembali ke Indonesia dengan membawa hasil dan termasuk TKI dengan katagori TKI berhasil akan tetapi tidak sedikit yang masuk dalam katagori TKI bermasalah dan pulang dengan tangan hampa, kondisi sakit/cacat fisik dan mental, bahkan pulang hanya tinggal nama. Pada umumnya TKI ‘bermasalah’ (TKIB), berasal dari sektor informal sebagai Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT), hal ini terlihat dari data TKI yang ditampung di penampungan sementara (shelter) KBRI Kuala Lumpur dari waktu ke waktu senantiasa mengalami fluktuatif. Dalam rangka optimalisasi koordinasi antar fungsi terkait KBRI Kuala Lumpur telah dibentuk Satuan Tugas Pelayanan dan Perlindungan Warga Negara Indonesia (Satgas PPWNI) pada tanggal 29 Januari 2007. Selama periode Tahun 2008 s/d Oktober 2009, data TKIB yang ditampung di shelter dan ditangani oleh Satgas Pelayanan dan Perlindungan Warga Negara Indonesia (PPWNI) KBRI Kuala Lumpur mengalami peningkatan yaitu dari 854 (delapan ratus limapuluh empat) orang pada tahun 2008 menjadi 1008 (seribu delapan) orang per Oktober 2009. WNI/TKIB yang masuk shelter diklasifikasikan ke dalam 7 (tujuh) kasus, yaitu : 1. Gaji tidak dibayar; Periode Tahun 2008 – Oktober 2009, ketujuh klasifikasi kasus diatas masing-masing mengalami peningkatan, yaitu : 1. Kasus gaji tidak dibayar : 209 (Tahun 2008), 172 (Oktober 2009); Kasus tidak dibayar gaji, kondisi kerja yang tidak sesuai dan kasus penderaan menduduki 3 (tiga) katagori jumlah kasus terbesar yang sering menimpa tenaga kerja Indonesia di Malaysia. Dari kasus yang masuk dan ditangani Satgas PPWNI KBRI Kuala Lumpur dan berdasarkan pada kenyataan kasus di lapangan selama periode dimaksud, imej bahwa kasus penderaan seringkali dilakukan oleh majikan china, sedangkan kasus pelecehan seksual dilakukan oleh majikan India serta kasus tidak dibayar gaji seringkali dilakukan oleh majikan Melayu telah mengalami perubahan karena kasus yang terjadi baik itu penderaan, tidak dibayar gaji maupun pelecehan seksual juga dilakukan oleh majikan berkebangsaan China, India ataupun Melayu. Seringkali salah satu kasus yang terjadi memiliki saling keterkaitan dengan kasus lainnya, sebagai contoh kasus penderaan dan pelecehan seksual seringkali memiliki keterkaitan dengan kasus tidak dibayar gaji atau bahkan terkait dengan kasus Majikan mempekerjakan TKI secara illegal. Penanganan kasus yang dialami TKIB yang ditampung di shelter KBRI Kuala Lumpur seyogyanya dapat diselesaikan secara cepat apabila pihak-pihak terkait dapat bersikap kooperatif dalam menyelesaikan masalah termasuk penyelesaian masalah di Mahkamah. Hadirin yang saya hormati, Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, hubungan Indonesia-Malaysia tidak bisa dilepaskan dari faktor kesejarahan kedua negara. Sebagai negara yang memiliki intensitas hubungan yang cukup tinggi, hubungan Indonesia-Malaysia juga mengalami pasang surut. Hubungan diplomatik Indonesia-Malaysia telah terjalin sejak tahun 1957. Namun, pada tanggal 17 September 1963 hubungan diplomatik ini sempat terputus sebagai akibat terjadinya konfrontasi Indonesia-Malaysia. Pada masa Pemerintahan Presiden Soeharto, konfrontasi berakhir dan hubungan sosial budaya antara kedua negara dipulihkan kembali. Proses pemulihan hubungan diplomatik antara Indonesia-Malaysia diawali dengan ditandatanganinya Bangkok Accord di Bangkok pada tanggal 1 Juni 1966 oleh Menteri Luar Negeri kedua negara untuk penghentian konfrontasi. Sebagai tindak lanjut, pada tanggal 11 Agustus 1966 diselenggarakan pertemuan di Jakarta yang menghasilkan Perjanjian Pemulihan Perhubungan Republik Indonesia-Malaysia (Jakarta Accord). Indonesia dan Malaysia menjadikan ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) sebagai pilar utama dalam politik luar negerinya. Bagi Indonesia, ASEAN merupakan lingkaran konsentris pertama kawasan terdekat Indonesia dan pilar utama pelaksanaan politik luar negeri Indonesia. Indonesia dan Malaysia menyadari perlunya meningkatkan kohesivitas dan efektifitas kerjasama di berbagai bidang untuk mewujudkan kuatnya kedua negara menuju ASEAN Community. Indonesia dan Malaysia merupakan pilar utama terwujudnya ASEAN Community. Jika Indonesia dan Malaysia bersatu dalam maka ASEAN pun bisa menjadi lebih stabil dan makmur Hadirin yang saya hormati, Saya meyakini bahwa tantangan terhadap hubungan kedua negara akan sangat besar di masa mendatang. Dengan demikian meskipun pada dasarnya kedua negara memiliki ikatan kekerabatan, budaya dan persaudaraan yang erat namun kita harus senantiasa menggali potensi kerjasama di segala bidang dan menyelesaikan permasalahan yang ada diantara kedua negara secara baik dan bijaksana. Sebagai negara bertetangga, kerjasama merupakan keniscayaan. Persepsi negatif harus diminimalisir sehingga ia tidak menghalangi keinginan kedua bangsa dan negara untuk maju. Kalaupun ada ketegangan, ia bisa dianggap sebagai dinamika yang menghiasi kedua pihak yang bertetangga. Indonesia dan Malaysia telah ditakdirkan untuk bertetangga, dengan demikian tidak ada pilihan lain adalah kerjasama untuk kemajuan bersama. Jika hubungan kerjasama antara Indonesia dan Malaysia dapat terlaksana dan semakin meningkat di segala bidang, niscaya kita dapat turut menciptakan kestabilan kawasan yang pada gilirannya akan memberikan manfaat yang lebih besar kepada kesejahteraan rakyat kedua negara. Akhirnya pada kesempatan yang berharga ini, saya mengucapkan selamat kepada para Wisudawan dan Dirgahayu Universitas Langlangbuana dalam Dies Natalis tahun 2009. Terima kasih atas perhatiannya. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kuala Lumpur, 19 November 2009 Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Tan Sri Prof. Drs. Da’i Bachtiar SH, AO |





















