Senin, 06 Sep 2010
You are here: Home Cegah Korupsi Demo-Crazy, Reform-Crazy, Corrupt-crazy dan Games-Crazy

Agenda Kegiatan

<<  September 2010  >>
 Se  Se  Ra  Ka  Ju  Sa  Mi 
    1  2  3  4  5
  6  7  8  9101112
13141516171819
20212223242526
27282930   
mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday158
mod_vvisit_counterYesterday81
mod_vvisit_counterThis week346
mod_vvisit_counterLast week997
mod_vvisit_counterThis month909
mod_vvisit_counterLast month4811
mod_vvisit_counterAll days28865
Demo-Crazy, Reform-Crazy, Corrupt-crazy dan Games-Crazy PDF Cetak E-mail
Jumat, 11 Juni 2010 06:53
Indeks Artikel
Demo-Crazy, Reform-Crazy, Corrupt-crazy dan Games-Crazy
Halaman 2
Halaman 3
Seluruh halaman

Demo-Crazy, Reform-Crazy, Corrupt-crazy dan Games-Crazy

Seorang pujangga terkenal Jayabaya pernah meramalkan bahwa Indonesia pada suatu saat akan terjadi masa yaitu Jaman Edan Yen Ora Edan Ora Keduman dalam bahasa Jawa yang artinya bahwa nanti akan terjadi suatu masa di mana orang akan seperti orang gila karena tidak ikut gila maka tidak mendapat bagian. Ternyata ramalan yang dikatakan Jayabaya ini telah menjadi kenyataan yaitu istilah demokrasi dalam kenyataannya menjadi demo-crazy, reformasi berubah jadi reform-crazy, korupsi menjadi Corrupt-crazy dan semua ini adalah karena Games-Crazy.

 

Pada jaman orde baru, semua orang merasa pemerintah bertindak seperti diktaktor, terbelenggu, tidak bebas dalam berbicara, menulis, mengkritik penguasa pasti akan diberangus, ditahan, ditakut-takuti bahkan terakhir mungkin ditahan atau dihilangkan. Maka pada tahun 1998 muncullah ide reformasi yang diprakarsai oleh beberapa tokoh nasional seperti Amien Rais, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Abdulrahman Wahid dan Akbar Tanjung. Didukung dengan kekuatan mahasiswa dan masyarakat maka tumbanglah rezim orde baru dan terjadi pergantian pemimpin nasional dengan harapan ada reformasi untuk kebebasan dalam hidup baik berbicara, mengemukakan pendapat, kritik , protes bahkan dengan berdemo. Setelah berjalannya waktu ternyata cita-cita reformasi dinodai dengan tindakan-tindakan yang keluar dari norma-norma etika, kesopanan, kesantunan, kedamaian dan yang lebih parah lagi tindakan demo sudah tidak murni lagi menyampaikan aspirasi masyarakat tetapi sudah ditunggangi oleh kepentingan kelompok dan pribadi tertentu. Lebih dari itu demo sudah menjadi lahan bisnis bagi orang yang memanfaatkan dengan mengumpulkan sekelompok orang dengan tariff tertentu. Maka sekarang demokrasi telah berubah menjadi demo-crazy.

Reformasi terus bergulir bahkan timbul istilah dari Orde Lama, Orde Baru dan Orde Reformasi. Harapan masyarakat dengan reformasi ini akan terjadi perubahan kehidupan dari sulit mencari uang menjadi lebih mudah mencari pekerjaan dan uang untuk masa depan, dari tidak ada kebebasan berbicara menjadi bebas mengemukakan pendapat tetapi semua harapan itu hanya slogan dan omong kosong. Para elite politisi, pemimpin nasional dan kelompoknya lebih banyak memperkaya diri sendiri dan kelompoknya tanpa mempedulikan kepedihan hidup masyarakat di kelas bawah. Janji-janji di masa pemilihan umum, pilkada dan lainnya ternyata hanya menjadi lips service dan janji bohong. Memang kalau diamati demo yang dilakukan oleh masyarakat atau kelompok tertentu seolah-olah benar-benar menyampaikan aspirasi secara jujur dan benar namun semua ini adalah bagian dari permainan kelompok pemimpin dan individu tertentu. Masyarakat bahkan tidak mengerti benar arti reformasi yang sesungguhnya. Demo dari desa sampai ke ibu kota tanpa didasari pengetahuan dan kebenaran yang hakiki, masyarakat pendemo lebih senang merusak dari pada memelihara, terjadi penyiksaan, pembakaran, bahkan pembunuhan kepada orang-orang yang tidak tahu menahu. Bahkan lebih parah lagi adalah para mahasiswa melakukan demonstrasi dengan merusak fasilitas kampusnya sendiri. Inilah reformasi yang kebablasan dan kita namakan Reform-crazy.

 



 

Add comment


Security code
Refresh